Pengetahuan Peserta Naik 33,4 Poin Persentase, POLADUMANSIA Perkuat Edukasi Diabetes di Mandolang

MINAHASA — Upaya pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Pengetahuan, keterampilan perawatan mandiri, aktivitas fisik, pola hidup sehat, serta pendampingan di tingkat masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi kesehatan penderita diabetes.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Manado mengembangkan Paket Pelayanan Terpadu Mandiri Lansia (POLADUMANSIA) di Desa Kalasey I dan Desa Kalasey II, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Program yang dilaksanakan melalui Program Kemitraan Wilayah (PKW) ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan kader kesehatan dan masyarakat dalam melakukan edukasi, pemantauan, serta pendampingan pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2.

Kegiatan berlangsung pada 23–25 Juli 2026, pukul 08.00–16.00 WITA, dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas kader kesehatan, lansia, dan penderita Diabetes Melitus Tipe 2.

Bukan Sekadar Pelatihan, Kader Disiapkan Jadi Penggerak di Masyarakat

POLADUMANSIA dirancang bukan hanya sebagai kegiatan pelatihan satu kali. Program ini menempatkan kader kesehatan sebagai bagian penting dalam keberlanjutan edukasi dan pendampingan masyarakat.

Para kader mendapatkan pelatihan mengenai pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemantauan kadar gula darah, kepatuhan terhadap pengobatan, hingga pencegahan komplikasi.

Mereka juga dibekali keterampilan perawatan kaki diabetik, mulai dari pemeriksaan kaki, menjaga kebersihan dan kelembapan kulit, perawatan kuku, memilih alas kaki yang aman, hingga mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Pendekatan tersebut penting karena edukasi merupakan bagian integral dalam pengelolaan penyakit kronis. Pengetahuan yang memadai dapat membantu individu memahami penyakit, faktor risiko, pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat, pemantauan kondisi kesehatan, dan upaya pencegahan komplikasi.

Senam Kaki, Rendam Kaki, Massage hingga Berkebun

Suasana pelaksanaan POLADUMANSIA tidak hanya diisi dengan penyampaian materi.

Peserta juga mengikuti praktik senam kaki diabetik, rendam kaki, dan massage kaki. Kegiatan kemudian dipadukan dengan edukasi produktif melalui teknik berkebun.

Metode praktik dipilih agar peserta tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mencoba secara langsung keterampilan yang diberikan.

Kader dilatih secara bertahap. Pada tahap awal, kader mendapatkan edukasi bersama tenaga profesional. Selanjutnya, kader mulai memberikan edukasi dengan supervisi dosen dan tenaga kesehatan Puskesmas. Pada tahap berikutnya, kader diarahkan agar mampu memberikan edukasi secara mandiri.

Model ini diharapkan membuat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat terus diterapkan di masyarakat melalui Kelompok Pengembang POLADUMANSIA.

Libatkan Berbagai Profesi Kesehatan

Program ini juga mengedepankan pendekatan Interprofessional Education (IPE) dan Interprofessional Collaboration (IPC).

Dosen Poltekkes Kemenkes Manado, Puskesmas Tateli, tenaga medis, laboran, tenaga promosi kesehatan, keperawatan, dan gizi terlibat dalam edukasi serta pendampingan peserta.

Kolaborasi juga diperluas dengan melibatkan tim penyuluh dari Dinas Pertanian Minahasa, khususnya dalam kegiatan berkebun.

Keterlibatan berbagai bidang tersebut membuat POLADUMANSIA tidak hanya berorientasi pada aspek klinis diabetes, tetapi juga menyentuh aspek edukasi, perilaku hidup sehat, aktivitas fisik, pemberdayaan, dan produktivitas masyarakat.

Pengetahuan Peserta Naik 33,4 Poin Persentase

Salah satu hasil evaluasi yang terlihat adalah perubahan tingkat pengetahuan peserta.

Sebelum intervensi, sebanyak 17 peserta atau 56,7 persen berada dalam kategori pengetahuan kurang baik, sedangkan 13 peserta atau 43,3 persen berada dalam kategori baik.

Setelah kegiatan, jumlah peserta dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 23 orang atau 76,7 persen. Sementara itu, peserta dengan pengetahuan kurang baik turun menjadi 7 orang atau 23,3 persen.

Secara deskriptif, terjadi peningkatan proporsi peserta dengan pengetahuan baik sebesar 33,4 poin persentase. Data tersebut menunjukkan perubahan dari 43,3 persen sebelum kegiatan menjadi 76,7 persen setelah intervensi.

Menurut tim pengabdi, peningkatan tersebut menjadi temuan penting karena pengetahuan dapat menjadi dasar bagi terbentuknya kesadaran dan kemampuan melakukan perawatan mandiri.

Namun, peningkatan pengetahuan tidak serta-merta berarti perubahan perilaku jangka panjang. Karena itu, edukasi perlu dilanjutkan dengan pendampingan, dukungan keluarga, pemantauan, dan evaluasi secara berkala.

Tekanan Darah dan Gula Darah Juga Dipantau

Selain pengetahuan, tim juga melakukan evaluasi terhadap tekanan darah dan kadar gula darah peserta.

Sebelum kegiatan, terdapat 11 peserta atau 36,7 persen dengan tekanan darah terkontrol. Setelah kegiatan, jumlah tersebut meningkat menjadi 16 orang atau 53,3 persen.

Sementara itu, peserta dengan kadar gula darah terkendali sebelum kegiatan berjumlah 14 orang atau 46,7 persen. Setelah intervensi, jumlahnya menjadi 17 orang atau 56,7 persen.

Secara deskriptif, terjadi peningkatan proporsi peserta dengan kadar gula darah terkendali sebesar 10 poin persentase.

Meski demikian, tim pengabdi tidak menyimpulkan perubahan tekanan darah dan kadar gula darah tersebut sebagai akibat tunggal dari intervensi POLADUMANSIA. Berbagai faktor lain dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.

Karena itu, pemantauan dalam periode yang lebih panjang serta pemeriksaan yang lebih terstandar diperlukan untuk melihat keberlanjutan perubahan tersebut.

Posbindu Jadi Titik Keberlanjutan

Bagi tim pengabdi, keberhasilan POLADUMANSIA tidak berhenti ketika pelatihan selesai.

Program diarahkan untuk membentuk Kelompok Pengembang POLADUMANSIA yang dapat melanjutkan kegiatan melalui Posbindu PTM.

Melalui kelompok tersebut, kader diharapkan dapat terus berperan sebagai edukator dan pendamping masyarakat, sementara kegiatan Posbindu menjadi salah satu ruang untuk melanjutkan pemantauan dan edukasi terkait penyakit tidak menular.

Pendekatan berkelanjutan menjadi penting karena peningkatan pengetahuan perlu diikuti dengan pendampingan dan evaluasi agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi kemampuan dan perilaku perawatan mandiri.

Dari Desa untuk Pengendalian Penyakit Tidak Menular

Pengembangan POLADUMANSIA di Kalasey I dan Kalasey II menunjukkan bagaimana institusi pendidikan kesehatan dapat berkolaborasi dengan pemerintah desa, Puskesmas, kader, masyarakat, serta sektor terkait untuk memperkuat pengendalian penyakit tidak menular berbasis komunitas.

Kegiatan ini diketuai Ns. Nurseha Djaafar, S.Pd., S.Kep., M.Kes., bersama anggota tim Jane A. Kolompoy, SKM., M.Kes., Herlina P. Memah, SKM., M.Kes., dan Ni Luh Jayanthi Desyani, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB., serta melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan.

Melalui POLADUMANSIA, kader tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pelatihan, tetapi diarahkan menjadi penggerak edukasi dan pendamping masyarakat.

Harapannya, pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 dapat semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga diperkuat dari keluarga, kelompok masyarakat, dan lingkungan desa.

Poltekkes Kemenkes Manado — Mengabdi, Memberdayakan, dan Bersama Masyarakat Mewujudkan Hidup Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *